Mengenal Lubuklinggau: Kota Transit di Ujung Sumatera Selatan

TL;DR

Lubuklinggau adalah kota di ujung barat Provinsi Sumatera Selatan dengan populasi 245.287 jiwa (2024). Letaknya di persimpangan jalur lintas Sumatera menjadikannya titik penghubung antara Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi. Kota ini punya julukan “Kota Durian” sekaligus dikenal dengan Air Terjun Temam yang disebut Niagara-nya Indonesia, kuliner khas seperti pempek dan tempoyak, serta sejarah panjang sejak era kolonial.

Lubuklinggau sering disebut kota transit, tapi siapa pun yang pernah berhenti lebih dari semalam di sini tahu bahwa label itu tidak cukup. Kota yang berdiri di persimpangan Jalan Lintas Tengah Sumatera ini punya lapisan sejarah, alam, dan kuliner yang tidak ditemukan di kota-kota besar Sumatera Selatan lainnya. Simak penjelasannya berikut ini!

Posisi Geografis Lubuklinggau dan Batasnya

Lubuklinggau berada di posisi paling barat Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya pada koordinat 102°40’–103°0′ bujur timur dan 3°4’–3°22′ lintang selatan. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, sehingga menjadi pintu masuk utama dari Bengkulu menuju Sumatera Selatan, atau sebaliknya.

Luas wilayahnya 401,50 km², terbagi ke dalam 8 kecamatan dan 72 kelurahan. Kota ini juga berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas di sisi utara, timur, dan selatan, yang secara historis memang menjadi induk administratifnya sebelum pemekaran.

Posisi ini bukan sekadar fakta peta. Letak Lubuklinggau di persimpangan tiga provinsi — Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi — membentuk karakternya sebagai pusat distribusi barang dan jasa yang terus tumbuh. Sektor konstruksi menyumbang 21,11% dari PDRB kota ini, mencerminkan pembangunan yang masih berjalan kencang.

Sejarah Singkat: Dari Ibu Kota Marga hingga Daerah Otonom

Nama Lubuklinggau berasal dari tanaman leng-kong atau leng-kau yang dulu tumbuh subur di tepi lubuk — bagian sungai yang dalam. Masyarakat lokal menyebutnya ling-ge atau ling-gau, dan nama itulah yang akhirnya melekat.

Pada 1929, Lubuklinggau berstatus ibu kota Marga Sindang Kelingi Ilir di bawah Onder District Musi Ulu. Titik baliknya datang tahun 1933, ketika Belanda membuka jalur kereta api Palembang–Lahat–Lubuklinggau. Ibu kota Onder Afdeling Musi Ulu pun dipindahkan dari Muara Beliti ke Lubuklinggau, dan sejak saat itu kota ini mulai bertumbuh sebagai pusat administrasi dan perdagangan.

Selama Clash I tahun 1947, Lubuklinggau bahkan sempat dijadikan ibu kota Pemerintahan Provinsi Sumatra Bagian Selatan. Statusnya terus naik: menjadi ibu kota Kabupaten Musi Rawas pada 1956, lalu ditetapkan sebagai Kota Administratif melalui PP No. 38 Tahun 1981. Puncaknya, melalui UU No. 7 Tahun 2001, Lubuklinggau resmi menjadi daerah otonom pada 17 Oktober 2001.

Julukan Kota Durian dan Kota Transit

Dua julukan resmi Lubuklinggau adalah “Kota Durian” dan “Kota Transit Menuju Kota Metropolis.” Keduanya bukan sekadar slogan.

Predikat Kota Durian muncul karena Lubuklinggau adalah salah satu penghasil durian terbesar di Sumatera Selatan. Ketika musim durian tiba, kota ini menjadi tujuan pembeli dari berbagai daerah. Pohon durian tumbuh di banyak titik, dan durian menjadi bahan baku kuliner khas seperti tempoyak — fermentasi durian yang jadi bumbu masakan atau lauk makan nasi.

Julukan kota transit berasal dari posisi geografisnya. Siapa pun yang melintasi Sumatera dari Bengkulu menuju Palembang, atau dari Jambi menuju Bengkulu, hampir pasti melewati Lubuklinggau. Kondisi ini mendorong sektor perdagangan dan jasa tumbuh pesat, menjadikannya salah satu kontributor utama PDRB kota yang pada 2024 mencapai Rp8,72 triliun.

Destinasi Wisata Lubuklinggau yang Layak Dikunjungi

Lubuklinggau punya beberapa destinasi wisata yang tidak biasa untuk ukuran kota setingkat kabupaten.

Air Terjun Temam: Niagara-nya Indonesia

Air Terjun Temam adalah daya tarik utama yang paling sering disebut. Bukan karena tingginya — hanya 12 meter — tapi karena lebarnya mencapai 26 meter, membentang horizontal seperti tirai, mirip Air Terjun Niagara. Lokasinya di Kelurahan Air Temam, sekitar 11 km dari pusat kota dengan waktu tempuh 30 menit. Tiket masuk Rp10.000 per orang, dan area ini kini dilengkapi fasilitas waterpark serta lampu LED warna-warni yang menyorot air terjun dari petang hingga malam.

Catatan penting sebelum berkunjung: kolam di bawah air terjun cukup dalam dan arusnya deras, jadi pengawasan anak-anak mutlak diperlukan. Datang pada hari kerja juga jauh lebih nyaman dibanding saat libur panjang.

Bukit Sulap dan Watervang

Bukit Sulap berdiri di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, hanya 2 km dari pusat kota. Dari puncaknya, seluruh kota terhampar jelas. Jalur pendakiannya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Di lerengnya mengalir Sungai Kasie, yang juga menjadi titik arung jeram dan pemandian alami.

Watervang, sekitar 5 km ke arah timur dari pusat kota, adalah bendungan peninggalan Belanda yang kini berfungsi ganda: irigasi sekaligus destinasi wisata. Tempat ini tidak dipungut biaya masuk dan cocok untuk sekadar duduk-duduk menikmati aliran air di sore hari.

Museum Subkoss Garuda Sriwijaya

Bagi yang tertarik sejarah kemerdekaan, Museum Subkoss Garuda Sriwijaya adalah tujuan yang tidak boleh dilewatkan. Museum ini menyimpan koleksi artefak dan dokumen perjuangan rakyat Sumatera Selatan mempertahankan kemerdekaan, khususnya periode 1945–1949. Letaknya di pusat kota, berhadapan dengan Masjid Agung As-Salam.

Kuliner Khas Lubuklinggau

Kuliner Lubuklinggau banyak berbagi akar dengan masakan Sumatera Selatan, tapi ada beberapa yang punya karakternya sendiri.

Pempek di sini dibuat dari ikan tenggiri yang digiling halus, dicampur tepung sagu, dan disajikan dengan kuah cuko pedas manis. Harganya mulai Rp8.000–20.000, bisa ditemukan di banyak warung di pinggir jalan. Tempoyak adalah fermentasi durian dengan aroma menyengat yang khas — dimakan bersama nasi atau diolah menjadi gulai. Burgo berbahan tepung sagu dan santan, bertekstur kenyal, biasanya disajikan dengan lauk pilihan.

Yang lebih unik adalah Martabak India khas Lubuklinggau, yang disajikan dengan santan dan kari bubuk — berbeda dari martabak yang umum ditemukan di tempat lain. Ada juga lenggang, yang sekilas mirip pempek tapi berbahan dasar telur ayam, dan stik Lubuklinggau, camilan gurih renyah dari tepung yang populer dibawa sebagai oleh-oleh.

Transportasi Menuju dan di Dalam Lubuklinggau

Lubuklinggau berjarak sekitar 300 km dari Palembang. Beberapa opsi transportasi tersedia:

  • Kereta api: Stasiun Lubuklinggau melayani rute ke Palembang dengan Kereta Api Serelo dan Sindang Marga, waktu tempuh sekitar 7 jam.
  • Pesawat: Bandara Silampari, sekitar 5 km dari pusat kota, melayani rute ke Jakarta (Nam Air, Batik Air) dan Palembang (Wings Air).
  • Kendaraan darat: Bus dan mobil pribadi melalui Jalan Lintas Tengah Sumatera, waktu tempuh dari Palembang 6–8 jam tergantung kondisi lalu lintas.

Di dalam kota, angkutan kota, ojek, dan becak masih menjadi transportasi utama. Kondisi jalan dalam kota cukup baik dan sebagian besar destinasi wisata terjangkau dalam 30 menit dari pusat kota. Perlu diperhatikan bahwa jadwal penerbangan di Bandara Silampari bisa berubah sewaktu-waktu — konfirmasi ke maskapai sebelum berangkat sangat disarankan.

Kondisi Ekonomi dan Penduduk

Menurut data BPS yang dipublikasikan Databoks, jumlah penduduk pada 2024 tercatat 245.287 jiwa, dengan sekitar 65,25% berada di usia produktif (15–59 tahun). Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota ini pada 2022 mencapai 75,53 — menempatkannya sebagai salah satu kota dengan kualitas SDM tertinggi di Sumatera Selatan.

Ekonominya ditopang terutama oleh sektor konstruksi, perdagangan, dan real estate. Pertumbuhan PDRB 4,62% pada 2024 menunjukkan pemulihan yang solid pasca pandemi, lebih tinggi dari pertumbuhan 3,15% yang tercatat pada akhir 2021. Kota ini juga memiliki beberapa perguruan tinggi, termasuk Universitas Musirawas dan Universitas Bina Insan, yang mendukung ketersediaan tenaga terdidik lokal.

Lubuklinggau bukan kota yang sekadar dilewati. Dengan sejarah yang panjang, alam yang mudah dijangkau, kuliner yang beragam, dan ekonomi yang terus tumbuh, kota ini menawarkan lebih dari yang terlihat dari kaca jendela bus yang melintas.

Scroll to Top